Kisah Warga Sawaran Kulon Selamatkan Diri dari Terjangan Longsor

Kisah Warga Sawaran Kulon Selamatkan Diri dari Terjangan Longsor
Kondisi Dusun Kukun paska longsor
Lumajang, Motim - Detik-detik terjadinya bencana tanah longsor di Dusun Kukun, Desa Sawaran Kulon, Kecamatan Kedungjajang, Minggu (28/2/2021) dini hari, masih diingat betul oleh Suliman, salahsatu korban. Peristiwa tersebut telah menghabiskan seluruh harta bendanya.

Pada Memo Timur Ia bercerita, saat itu dirinya sedang tidur bersama keluarganya. Sekira pukul 2 dini hari, terdengar suara gemuruh dan suara benturan batu yang sangat keras. Sontak ia bergegas bangun, dan melihat rumahnya sudah kemasukan lumpur akibat longsor. Kemudian Ia lari ke pintu dapur untuk melihat kondisi di luar, dan ternyata tanah lumpur sudah setinggi perut orang dewasa.

Lanjutnya, ia pun segera ke kamar dan membangunkan istri dan saudaranya itu. Tanpa memberi penjelasan ia mengajak istrinya segera keluar dari rumah. Ketika hendak keluar rumah melalui pintu depan, rumahnya sudah tertutup batu besar. Akhirnya ia memutuskan keluar lewat pintu belakang dengan memanfaatkan pohon besar yang roboh.

“Saya masih ingat, 4 kali suara gemuruh itu terjadi. Pas saya keluar lewat dapur, lumpur itu tertahan oleh kandang. Kalau nggak, habis sudah,” jelas Niman.

Melihat kandang dan ternaknya tertimbun longsor tak lagi menyita perhatiannya. Ia bergegas mencari bantuan ke tetangga untuk menggotong istrinya keluar rumah dengan menggunakan tandu seadanya. Ajaibnya, ia bersama tetangga menggotong istrinya melewati jalan yang tidak tertimbun lumpur, sehingga memudahkan proses evakuasinya itu.

“Kalau bukan yang di atas (Tuhan, red) yang ngatur, tidak mungkin ada jalan. Padahal sekelilingnya tertimbun longsor,” ucapnya penuh heran.

Setelah berhasil menyelamatkan keluarganya, ia pun bersama tetangga pergi ke tempat yang lebih aman. Pada malam itu, mereka terjebak banjir di sebelah utara dan tanah longsor di sisi selatannya, sehingga mereka tidak bisa meminta bantuan ke warga lain sampai banjir tersebut reda. “Alkhamdulillah semuanya selamat, meskipun rumah dan kambing kami mati semua,” kisahnya dengan haru.

Niman, panggilan akrabnya, tinggal bersama saudara perempuan sepupu yang pendengarannya terganggu dan seorang istri yang tidak bisa berjalan normal sejak 5 tahun yang lalu. Sedangkan dirinya sendiri jika berjalan, kakinya selalu gemetaran.(rus)