Warga Gesang Jaga Jembatan Hingga Malam Hari

Warga Gesang Jaga Jembatan Hingga Malam Hari
Masyarakat ketika melintasi jembatan darurat dari bambu di Desa Gesang
Lumajang, Motim - Jembatan darurat yang terbuat dari bambu yang menghubungkan Desa Gesang Kecamatan Tempeh dengan Desa Sememu Kecamatan Pasirian terus dijaga.

Penjagaan tersebut dilakukan secara bergantian oleh warga Desa Gesang dari pagi sampai malam hari.

Hal itu dilakukan warga demi keamanan pengguna jalan yang melintasi jembatan. Pasalnya, selain sering terjadi banjir di aliran sungai tersebut ketika hujan, juga sebagai antisipasi terjadinya aksi kejahatan seperti begal.

Lasmono selaku ketua Rukun Tetangga (RT) setempat kepada Memo Timur menyampaikan, jika apa yang dilakukannya bersama warga merupakan permintaan dari warga Desa Gesang dan Sememu.

Semenjak jembatan itu putus akibat terjangan banjir, perekonomian warga setempat jadi terhambat.

“Sebetulnya pihak desa dan kecamatan tidak membolehkan, tapi karena permintaan warga ya kami gotong royong membuat jembatan dari bambu, dengan biaya sendiri,” terang Lasmono di sela-sela kesibukannya bersama warga membuat jembatan darurat, Jum’at (12/3/21).

Jembatan darurat tersebut menghabiskan dana lebih dari 5 juta. Dana tersebut merupakan hasil dari patungan warga setempat.

Ada 2 buah jembatan yang dibangunnya, supaya warga yang melintas tidak bersalipan. Jembatan yang panjangnya 40 meter itu dibangun esok harinya paska jembatan utama putus. Kemudian, jembatan dengan panjang 12 meter tersebut baru selesai dibuat seminggu yang lalu.

Tidak cukup sampai disitu, pihaknya pun memasang lampu penerangan di beberapa titik supaya yang melintasi jembatan merasa aman dan nyaman.

“Yang membuat jembatan ini warga Gesang, karena sungai ini masuk wilayah Gesang Mas,” jelas Lasmono.

Lanjutnya, ada 14 orang yang aktif membangun dan menjaga jembatan tersebut hingga malam hari. Apabila ada warga yang membawa muatan berat atau ada orang tua yang hendak menyeberangi jembatan, yang bertugas menjaga akan mendampingi orang tersebut.

“Ada relawan yang membantu, yang pasti ya 14 orang ini. Kita jaga terus, takut ada banjir,” jelasnya lagi.

Sementara, 14 orang tersebut tidak bertani karena lebih mengutamakan keselamatan warga yang melintas. Untuk kebutuhan sehari-hari, mereka memanfaatkan uang amal yang diberikan oleh orang-orang yang lewat dan sisanya untuk mengganti biaya pembelian bambu.

“Kami berharap agar jembatan ini segera dibangun, supaya ekonomi warga bisa lancar,” pungkasnya.(rus)