Buntut Kasus Kekerasan Terhadap Belasan Siswa MI Nurul Huda IBW Lapor KPAI

Buntut Kasus Kekerasan Terhadap Belasan Siswa MI Nurul Huda IBW Lapor KPAI
Salahsatu murid MI ketika menjalani perawatan medis

Lumajang, Motim - Buntut kasus kekerasan dugaan penyulutan tangan dengan Korek Api oleh oknum Kepala Sekolah (Kasek) dan Guru di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Nurul Huda di Desa Dadapan, Kecamatan Gucialit, beberapa waktu yang lalu mendapat perhatian khusus IBW Lumajang.

Ketua IBW Lumajang, MJ. Choir mengaku prihatin atas kejadian itu dan kejadian itu sudah diadukan kepada Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Jawa Timur, berharap KPAI untuk turun tangan terhadap kasus tersebut.

“Tujuan kami melaporkan agar kasus ini mendapat perhatian serius dan tidak terjadi di lembaga sekolah lainnya,” ungkapnya, ketika dikonfirmasi beberapa awak media pada Senin (5/4) siang.

Kasus tersebut kata dia sudah sangat mencoreng dunia pendidikan, ditambah lagi, sekolah yang melakukan aksi kekerasan itu di bawah naungan Kementerian Agama (Kemenag) Lumajang.

“Kami melihat reaksi yang ditimbulkan terutama di media sosial sangat luar biasa, itu artinya ada yang salah dengan oknum Kasek dan Guru ini, sehingga langkah hukum harus benar-benar di jalankan dengan sebaik mungkin,” imbuhnya.

Disinggung terkait beredarnya surat pemberhentian Kasek dan Guru yang sudah rame di media sosial, ia menjelaskan, terkait persoalan tersebut sudah menjadi ranah yayasan dan Kemenag Lumajang. Namun yang pasti proses hukum atas dugaan kasus kekerasannya, harus diproses sesuai prosedur yang berlaku.

“Saya berharap penyidik tidak tebang pilih dan proses hukum tetap jalan. Kalau satu siswa digitukan mungkin wajar, ini satu kelas Mas," jelasnya.

Senada dengan yang disampaikan MJ. Choir. Ketua Perkumpulan Gerakan Masyarakat (GEMA) Lumajang Hanafi. Ia juga mendesak aparat penegak hukum transparan terhadap kasus ini. Apalagi korbannya tidak hanya 1 atau 2 orang saja.

“Ini korbannya banyak, Saya pikir oknum Kasek dan Gurunya memang layak dipecat dan harus diproses hukum dengan sungguh-sungguh,” pungkasnya.

Seperti yang sudah diberitakan sebelumnya, belasan siswa harus merasakan sakit yang luar biasa, setelah tangannya disulut Korek Api oleh oknum Kasek juga oknum Gurunya. Gara-gara belasan siswa itu dituding mencuri uang tabungan sebesar Rp. 12.000 (Dua Belas Ribu Rupiah ).

Aksi oknum Kepala Sekolah dengan Guru ini akhirnya menuai reaksi dari orang tua murid. Tak terima anaknya dianiaya hingga seperti itu, orang tua mendatangi pihak kepolisian Polsek Gucialit, menuntut keadilan atas kasus ini.

Orang tua ini menceritakan soal dugaan penganiayaan yang dialami anaknya terjadi pada hari Jum’at (26/3) lalu. Penganiayaan ini dipicu sang Kepala Sekolah dengan guru yang emosi karena sekolah kehilangan uang tabungan sebesar Rp.12.000 ( Dua Belas Ribu Rupiah).


Namun para murid tidak ada yang mengaku. “Anak Saya ini menahan sakit, karena kalau sampai bilang panas dan sakit, maka anak itu yang dituding mencuri uang,” imbunya.

Akibatnya, trauma yang cukup berat, beberapa keluarga murid yang mengalami luka parah juga berencana membawa korban untuk pendampingan ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Lumajang.(rus)