Miris! Belasan Siswa MI Nurul Huda Dadapan Tanganya Disulut Korek Oleh Oknum Kasek dan Guru

Korban menunjukan luka akibat disulut korek api. (cho)
Lumajang, Motim - Belasan siswa Madrasah Ibtidaiyah Nurul Huda di Desa Dadapan Kecamatan Gucialit, harus merasakan sakit yang luar biasa, setelah tangannya di sulut Korek Api oleh oknum Kepala Sekolah (Kasek) juga oknum Gurunya.

Gara-garanya belasan siswa itu dituding mencuri uang tabungan sebesar Rp. 12.000 (Dua Belas Ribu Rupiah ).

Aksi oknum Kepala Sekolah dengan Guru ini ahirnya menuai reaksi dari orang tua murid. Tak terima anaknya dianiaya hingga seperti itu, orang tua mendatangi pihak kepolisian Polsek Gucialit, menuntut keadilan atas kasus ini.

“Sudah kita laporkan ke Polsek Gucialit dan keluar Laporan Polisi (LP) Pak,” ungkap salah satu orang tua saat dikonfirmasi pada Kamis (1/4) siang.

Orang tua ini menceritakan soal dugaan penganiayaan yang dialami anaknya terjadi pada hari Jum’at (26/3) lalu. Penganiayaan ini dipicu sang Kepala Sekolah dengan guru yang emosi karena sekolah kehilangan uang tabungan sebesar Rp.12.000 ( Dua Belas Ribu Rupiah).

Namun para murid tidak ada yang mengaku. “Anak saya ini menahan sakit, karena kalau sampai bilang panas dan sakit, maka anak itu yang dituding mencuri uang,” imbunya.

Akibat, trauma yang cukup berat, beberapa keluarga murid yang mengalami luka parah juga berencana membawa korban untuk pendampingan ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Lumajang.

“Saya tak terima anak saya dianiaya guru seperti ini. Pulang tanganya melepuh pak, gak tega saya melihatnya,” tegasnya.
Sementara itu Kepala Desa Dadapan Suhardi, saat dikonfirmasi terkait dengan kasus penganiayaan tersebut mengatakan, kejadian itu baru diketahui setelah ada oknum Kepala Sekolah dan oknum guru datang ke rumahnya, namun ia mengaku tidak bisa berbuat banyak, karena ranah MI ada di Kementerian Agama (Kemenag) Lumajang.

“Kami tidak bisa berbuat banyak, namun sesuai yang diharapkan oleh masyarakat, ya mintanya diproses saja karena ini dinilai sangat keterlaluan pak,” ungkapnya.

Disinggung terkait dengan kemunculan surat pernyataan dari orang tua murid, Suhardi mengatakan, jika mereka mengaku tidak tahu menahu soal isi dari surat pernyataan yang tiba-tiba disodorkan oleh pihak sekolah.

“Mereka ngomong ke saya hanya diminta tandatangan tanpa membaca isi dari surat tersebut,” bebernya.

Selain itu, pihak desa juga tidak pernah dilibatkan dalam berbagai persoalan yang ada di Madrasah Ibtida'iyah Nurul Huda itu, sehingga ia juga menyayangkan atas semua langkah yang diambil pihak sekolah yang terkesan ingin mencari aman dari kasus ini.

“Mungkin mereka mencari jalan aman, padahal ini kasus kekerasan kepada anak pak,” pungkasnya.

Terpisah Sulthon Umar, Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan Gucialit mengatakan, setelah mendengar kabar tersebut, ia diminta pihak Kemenag Kabupaten Lumajang untuk menindak lanjuti dan meberikan sanksi tegas atas kasus ini.

“Sesuai petunjuk pimpinan sudah kita lakukan tindakan tegas, kemungkinan mereka (guru dan Kasek) akan di non aktifkan pak,” jelasnya.

Hal senada juga disampaikan Kapolsek Gucialit Iptu Joko Triono, pihaknya akan melakukan penyelidikan lebih lanjut terkait laporan tersebut.

Untuk saat ini, masih mengumpulkan beberapa bukti tambahan terkait dugaan penganiayaan itu.

"Kita akan tetap menndaklanjuti persoalan ini, termasuk juga melakukan mediasi dengan semua yang terkait dengan melibatkan Muspika,” ungkapnya.

Sementara itu Kepala Sekolah MI Nurul Huda Siiti Maimunah dan guru Rosaidah, masih belum bisa dikonfirmasi, bahkan ketika didatangi ke sekolahnya pintu gerbang dalam kondisi terkunci rapat dan tidak ada aktifitas apapun di sekolah itu. (cho)